Tampilkan postingan dengan label social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label social. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Tanggung Jawab Mahasiswa

Tanggung Jawab Mahasiswa

Oleh: Saeful Fatah


Akhir – akhir ini saya sering menemui gagasan – gagasan yang tidaklah rasional di kalangan akademisi. Salah satu Pendapatnya mengenai cara berpkaian dan keharusan berpenampilan di lingkungan dan kehidupan kampus yang hanya di tinjau dari prespektif pribadinya. Bukan berarti saya manusia yang anti kritik, tetapi pendapat – pendapat mengenai budaya keharusan berpakaian itu begitu menggangu dan menyengat dikepala. Pasalnya banyak hal yang melatar belakangi ketidak setujuan saya terhadap persoalan ini. Padahal banyak persoalan yang lebih Urgen yang harus dibahas,  dikritisi dan diberikan solusi oleh mahasiswa dan akademisi. Misalnya Persoalan penegakan Hukum Agraria Di bidang Pertanian, Terwujudnya ekonomi Kolektif di bidang ekonomi, Penegakan Hukum yang Tidak adil di Bidang Hukum, Konglomerasi Pendidikan dan lain – lain. Ada apa dengan pemikiran dan budaya yang di pahami oleh masyarakat Kampus, Khususnya Mahasiswa?

Universitas atau institusi pendidikan seyogyanya adalah tempat bagi manusia untuk mencerdaskan dan memerdekakan pemikiran. Di ajarkan berfikir Dengan cara – cara yang rasional dan empiris, lewat metode – metode yang mendidik dan membangun moral manusia. Sehingga yang dihasilkan adalah manusia yang mampu dan menjadi lebih Arif menjawab persoalan dan tantangan Pembangunan Manusia. Dalam mewujudkan lingkungan Pendidikan yang ideal haruslah tercipta budaya kaum intelektual yaitu budaya Literasi (Baca, Diskusi dan Tulis), yang jelas tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ( Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian). Lalu kenapa masyarakat Intelektual, Masrakat Kampus, kaum Akademisi lebih suka menyorot dan mensensor masalah berpakain? Memang benar pada realitanya kebanyakan manusia menilai segala sesuatu dari penampilan atau kulitnya, jarang menilai sesuatu dari substansinya. Tetapi Saya kira  dengan arif bagi masyarakat  Akademisi yang telah melaksanakan budaya Literasi atau Mengimplementasikan Tri Dharma, persoalan penampilan harus seperti apa dan bagai mana, hanyalah persolan subject dari tiap individu. Toh letak sopan santun, tatak rama, etika setiap manusia memilki cara yang berbeda. Yang jelas tidak melanggar sopan santun yang disepakati masyarakat indonesia secara luas. Dari pada Kita lantang memangkas kebebasan berekpresi dan mengatur manusia lain yang hanya mengkritisi kulitnya, Alangkah lebih bijak jika kita semua terus mengingatkan untuk tetap membudayakan budaya literasi yang mulai terkikis punah. Tentunya Agar tempurung kepla kita tetap sehat dan mampu mebedakan mana prioritas yang utama dan mana yang tidak terlalu penting.  

Jika kita belajar dari sejarah bangsa ini mengenai perjuangan Mahsiswa dan Pemuda begitu kental dengan aroma kritik tajam dalam perjuangan melawan penindasan dan penghisapan . Di era Awal Gerakan Pemuda dan Mahasiswa di tahun 1908 Budi Utoemo begitu gencar mengkritisi Pemerintahan Belanda, Perhimpunan Indonesia  mengeluarkan manifesto 1925, di era 1928 Mahsiswa dan Pemuda berhasil melaksanakan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda, pemuda berhasil mendesak Sukarno untuk mendeklarasikan kemerdakaan pada tahun 1945, di tahun 1966 Soe Hok Gie dengan Berani menginspirasi Perlawanan Terhadap  Pemerintahan yang sewenang – wenang, di tahun 1974 terjadi peristiwa Berdarah Malari, di mana mahasiswa dan Pemuda Menentang Keras Kediktaktoran Pemerintah, 1998 terjadi Reformasi mahasiswa bersatu menggulingkan Rezim Suharto yang Korup. Tentu yang diharapkan Founding Father kita terdahulu seperti Sjahrir dan Hatta Tidak ingin Mahasiswa, Pemuda dan Kaum Intelektual menjadi bungkam dan apatis. 

Saya pribadi terkadang begitu sulit percaya dengan sejarah panjang perjuangan Kaum Intelektual yang begitu menyakitkan, melelahkan dan menelan Korban Jiwa. Saya meyakini ketangguhan hati dan pemikiran para kaum pembaharu, di karnakan proses intelektualisasi pemikiran serta penyadaran untuk melawan ketidak adilan yang nyata di depann mata. Hal tersebut bisa terwujud di karnakan budaya Literasi yang begitu populis di kalangan Pemuda dan mahasiswa. Karna kesadaran untuk melawan muncul dari pemikiran yang revolusioner yang di barengi wawasan luas. Pemikiran revolusioner ini muncul dari ruang –ruang dialektika kaum intelektual, dengan bersenjatakan wawasan yang komprehensif dan holistik.  sehingga menghasilkan ide – ide yang mampu  melawan kaum – kaum penindas, penghisap dan pembunuh rakyat.

Mari saudaraku,  kita berkaca bersama dan meluruskan kembali pemikiran kita sebagai manusia dan sebagai mahasiswa. Apa kah kita sudah memberikan kontribusi terhadap pembangunan Manusia? apakah kita sudah menjalankan Fungsi dan Peran Kita Sebagai Mahasiswa? Mari kita bersama mewujudkan Budaya Membaca, Berdiskusi, Menulis dan Melawan! Sehingga kita tidak buta dan Tuli dalam menghadpi persoalan Bangsa ini!

“Lekas Bangun dari Tidur Berkepanjangan.
Menyatakan Mimpi MU. 
Cuci Muka Biar Terlihat Segar .
Merapikan Wajahmu 
Masih ada cara menjadi Besar 
Memudakan Tua Mu
Menjelma dan Menjadi Indonesia” – Efek Rumah Kaca



Selasa, 16 Juni 2015

Kerentanan

Kerentanan

oleh: Saeful Fatah

Makna kesempurnaan di hamparan bumi yang bisa di jabarkan dengan kajian ilmiah dan juga bisa bersifat transendental adalah keseimbangan Alam Semesta. Bukan kemudian bermaksud mengkultuskan segala ada yang di alam adalah tuhan, dewa dan sesembahan yang patut di jadikan tempat meminta memutar nasib. Dalam ranah pemikiran intelektual, perkembangan ilmu pengetahuan dan isu bencana alam menjadi titik balik kesadaran utuh manusia dalam memaknai kondisi dan segala sesuatu yang ada pada alam. Dalam peta sejarah alam semesta manusia ada setelah semua bentuk kehidupan mengalami masa keemasan , dimana keseimbangan yang tanpa residu berjalan tanpa merugikan pihak manapun. Adanya manusia di bumi baik dari sudut Dogmatis dan ilmiah adalah bukan untuk kemudian menghisap seluruh kekayaan yang ada di setiap inchi, sudut dan ruang alam semesta itu sendiri. 

Semesta Raya
Semesta berisikan komponen – komponen yang satu dengan lainya saling melengkapi sehingga terbentuklah sebuah system sempurna.  Bahkan bagian – bagian terkecil dari system tersebut tidak ada yang sia – sia, kecoa sekalipun adalah komponen dari system sempurna. Siklus yang terkecil  terus terjadi bersatu dengan system yang sangat besar sehingga melahirkan siklus keseimbangan. Di dalam siklus keseeimbangan tersebut terdapat apa yang dinamakan chaos dan order. Ketika siklus yang teratur tidak bisa lagi menahan  keseimbangannya maka akan terjadi chaos untuk mengembalikan Order dan akan terus terjadi seperti itu, seakan – akan ada sebuah hukum yang tidak tertulis namun semua tunduk terhadapnya.

Dosa Manusia
Kelahiran manusia yang diiringi tangisan adalah kenyataan dan kelahiaran yang diiringi dengan harapan adalah Impian semata. Terlahir menjadi mahluk yang dipersenjatai lengkap (akal, naluri, emosi, nafsu), Menjadikan manusia adalah sejata penghancur bagi apapun yang menghadang di depanya termasuk keseimbangan alam semesta raya.

Kenyataan bahwa manusia menempatkan dirinya bukan sebagai spesies dari klasifikasi kerajaan mahluk hidup. Memberikan kasta yang tinggi bagi manusia dalam menentukan arah bagi keberlangsungan keseimbangan sempurna yang terbentuk miliaran tahun lalu. Pedang adalah akal sedangkan mempunyai dua sisi , Buku adalah budi, moral dan ajaran. Pedang akan di hunuskan kepada siapapun yang tidak sesuai dengan buku.

Manusia membawa akalnya lihai seperti angin, menciptakan system demi mengatur apa – apa yang ada di dalam semeta ini. Menciptakan system tandingan bagi system yang sudah ada. Arahnya sudah sangat jernih menjadikan kehidupan manusia sejahtera. Akal yang selalu terpusat pada manusia Antroposentris dengan sangat cepat membinasakan  rantai keseimbangan. Banyak paham – paham yang muncul sebagai anti tesis dari paham yang sudah eksis sebelumnya. Individualis, egois dan kebencian adalah ajaran terbaik bagi manusia abad ini.

Mungkin kita lupa, mungkin kita lalai atau mungkin kita tidak tahu terhadap kesalahan yang sudah menjadi kebiaasaan dan mungkin waktunya kita coba memperhatikan dengan apa yang mengelilingi kehidupan manusia saat ini. sudah tiba waktunya bagi kita menjemput freja dan mengembalikan keseburan cinta yang menerangi titik buta terhadap kebaikan  dan kebijaksanaan hidup manusia.




Senin, 23 Februari 2015

Arus Informasi dan komunikasi Abad 21

Arus Informasi dan komunikasi Abad 21

Oleh: Saeful Fatah

Ada hal yang sangat unik di era ini, dalam memaknai komunikasi yang terpaut jara dan waktu. Sebagai pengaruh dari kemajuan teknologi, kini komunikasi tidak lagi terhalang oleh ruang, jarak dan waktu. Manusia di belahan Bumi utara dengan sangat mudah berkomunikasi dengan manusia belahan bumi manapun. mampu saling menukar kata – kata baik lewat pesan singkat, menggunakan pesan suara dan bahkan dapat bertatap muka.  Sungguh menakjubkan jutaan informasi dan data dapat di kirim dengan mudah, Dalam satu detik entah berapa juta data berpindah. Tentu hal ini sangat membantu sekali dalam memenuhi kebutuhan manusia akan informasi dan komukasi.

Namun ada hal yang sangat kontra diktif dibalik kemudahan dan hal instan dalam proses transfer informasi dan komunikasi. Ada beberapa hal fundamental yang tergerus oleh menghilangya ruang dimana bentuk fisik manusia dapat bertemu secara langsung, dimana jarak menghalangi komunikasi yang akhirnya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyampaikan informasi. Jika kita menilik lagi sejarah lampau manusia, perkembangan, kemajuan dan pembangunan tidak akan pernah lepas dari yang di sebut komunikasi. Di zaman ketika komunikasi tidak semudah sekarang, manusia memaknai komunikasi adalah sebuah bentuk syukur, seni, budaya dan sesuatu yang dalam.

Dalam sebuah contoh jika sepasang kekasih yang terpisah oleh  jarak dan waktu menyampaikan komunikasi dengan begitu sulit. Jika si pria mengirimkan surat kepada kekasih hatinya, surat itu berisi lebih dari satu penafsiran  karna memaknai komunikasinya dengan teramat dalam. Butuh waktu yang sangat lama si wanita untuk menerima surat dari kekasihnya.

Hal yang menarik yang bisa kita tarik dari hal ini bukan hanya mengenai makna yang mendalam dalam berkomunikasi karna begitu terlampau sulitnya. Tapi ada pertemuan secara fisik yang sangat dihargai.

Namun ketika kita kembali pada era serba instan dan mudah, komunikasi manusia mulai sedikit demi sedikit kehilangan rasa penghargaaanya terhadap pertemuan dengan manusia lainnya. Manusia lebih disibukan dengan alat komunikasinya dengan manusia di belahan bumi lain. Dari pada menghargai manusia yang ada di sekitarnya. Sikap apatis terhadap lingkungannya tumbuh dengan subur. Bahkan mungkin dia tidak pernah mengenal seseorang di dekat rumahnya atau  teman kelasnya.

Gejala seperti ini biasa disebut dengan “Demam Dunia Maya” manusia dapat dengan mudah berbicara apapun, memalsukan identitas diri, memungkinkan terror dengan mudah dan bahkan sampai terjadi penipuan yang merugikan. di era komunikasi instan jiwa manusia menjadi begitu lemah. Sifat yang muncul adalah selalu merasa cermas, aktualisasi diri yang berlebihan, kehilangan rasa percaya diri, tidak ada rasa keberanian, bergesernya nilai, menghilangnya kearifan budaya.



Kamis, 22 Januari 2015

Manusia dan keserakahanya

Manusia dan keserakahanya

Oleh: Saeful Fatah

Dari sebuah kata Manusia, yang kata manusia itu sendiri adalah ciptaan dari manusia. Manusia adalah kita sendiri, binatang yang dapat berfikir untuk melampaui segalanya sebagai sifat dasar yaitu keserakahan. Salah satu sifat dasar manusia yang teramat luar biasa adalah keserakahan (sifat yang tak kenal puas). Dan sampai saat ini pun dengan apa yang kita gunakan, yang dapat dirasakan, yang kita alami adalah  buah dari keserakahan jika di pandang dari perspektif alamiah. Keserakahan menghasilkan apa yang di sebut karya cipta manusia, bentuk dari sebuah system yang akan terus menuntun kita pada proses perubahan kearah perbaikan (self building) atau kearah kehancuran (self destruction). Dengan begitu luar bisa manusia mejajah alam  untuk mencari jawaban dari segala hal yang masih menjadi misteri di dalam tempurung kepalanya dan sebagai pelepas dahaga akan kebutuhan bertahan hidup.

Ilmu Pengetahuan dan Seni adalah pencapaian prestasi besar manusia terhadap proses perubahan kehidupan di muka bumi ini. Karna memang pada dasarnya manusia lah yang hanya dapat melakukanya diantara mahluk yang lain. Ilmu pengetahuan dan seni menghasilkan Budaya, budaya menjadi cara hidup manusia sebagai mahluk superior. Bahkan manusia dengan tempat yang berbeda dan ras berbeda menghasilkan budaya yang berbeda. Ilmu pengetahuan dan seni akhirnya memasuki era di mana manusia berkeinginan untuk dapat  melampaui tuhan, penciptaan kemudian  mejadi sebuah pencapaian tertinggi terhadap ilmu pengetahuan dan seni yang berakar dari sifat keserakahn itu.

Yang begitu memukau dari semua karya manusia, tanpa di sadari akerekahan adalah pola dasar dimana manusia di paksa untuk bergerak secara dinamis agar dapat melakukan perubahan. Sifat yang ada sejak kita lahir. keinginan, mimpi, harapan adalah kekuatan yang menciptakan pukulan dahsyat menuju perubahan yang entah dampaknya kea rah mana. Begitulah keserakahan menciptakan kehidupan manusia yang begitu rumit. 

Jumat, 21 November 2014

Dasar keinginan

Bukan iya atau tidak

oleh: Saeful Fatah

Secara pribadi aku mulai bertanya – Tanya dalam jiwaku yang paling dalam dari makna kehidupan. Bagaimana aku  melangkah, bagaimana aku bergerak, dan bagaimana??? Semuanya memeras ku. Aku berdiri dalam jurang keraguan, terbata – bata dalam mengartikan segala hal yang ku alami. Kelemahan ku yang semakin menjatuhakan jiwa ini ke dalam dasar dari tujuan hidupku. Namun aku sendiri tidak mampu mengartikan tujuan hidupku ini.

Semakin aku tenggelam dalam fikiran dan hatiku, semakin aku sulit mencari motivasi untuk bangkit. Dari bertanya kita mulai menuai bibit pencerahan. Namun segala jawaban saat ini yang ku temui adalah masih sangat abu – abu dari apa yg selama ini ku cari untuk memuaskan dahaga penyadaran hati dan fikiran ku.

Aku mengetahui bahwa dunia ini di bentuk dari berbagai fikiran manusia yang terimplementasi menjadi sebuah budaya dan cara hidup manusia. Apakah hidup ini hanya sebuah permainan fikiran dan kepentingan manusia. Entah lah???

Tapi aku mulai bercumbu dengan hal yang paling dasar dalam hidup ini yaitu kekosongan. Dimana dia melahirkan hitam dan putih. Relative adalah kebenaran dan kebenaran adalah relative, dunia di bentuk dari satu fikiran subjek yang diangkat menjadi sesuatu yg general. Ironis bukan, bahwa kebenaran hanyalah kebohongan belaka bahkan ilmu pengetahuan yang dasarnya adalah realita yang dapat dibuktikan dengan sempurna masih jauh dari kata kebenaran.

Gelap bukan lah gelap, putih juga bukan putih. Baik bukanlah baik, buruk bukanlah  buruk. Segalanya hanya ditentukan oleh presepsi individu. Bagaimana jika aku menjungkir balikan kenyataan bahwa yang buruk adalah baik atau yang baik adalah buruk. Kesimpulanya tetap sama manusia hanya sibuk dengan fikirannya sendiri. Aku terus mencari kebenaran namun tidak ada kebenara yang benar – benar aku cari.

Bolehlah aku di katakan orang yang tersesat dalam semesta jiwaku. Namun jika ku menyelami kembali lautan sejarah kehidupan manusia, bahwa ada hal yang selalu menuntunnya kedalam gelap dan terang. Hal itu tidak ku mengerti apa, kenapa seorang wanita yang memiliki paras seperti itu dikatan indah. Dan yang itu tidak indah. Kenapa manusia lebih memilih tertawa sebagai ungkapan senang. Jawabanya karna hanya (aku ingin- karna- ingin) semua presepsi dan keinginan di bentuk oleh kesadaran palsu yang kemudian disusupkan semasa kita menjalani liku – liku hidup.  Karna lingkungan membuat cara pandang hidup manusia berbeda – beda.

Sehingga pada akhirnya presepsi itu kita sebut dengan “hati kecil” keinginan yang berbisik lirih yang selalu menyatakan kebenaran bagi jiwanya. Jika ada dua wanita yang memiliki paras yang cantik dua-duanya hamper serupa terkadang kita memilih salah satunya. Kenapa harus salah satunya, kenapa tidak dua-duanya dan kenapa tidak sama sekali… entah faktor apa yang menyebabkan keyakinan meledak didalam jiwa untuk memilih wanita yang satunya. Logikapun menjadi tidak berarti, ilmupun mejadi takbertenaga menepisnya. Entah apa yang mungkin kalian sebut aku menyebutnya “hati kecil”.

Manusia akhirnya pantas bahwa disebut kertas yang kosong, diberikan warna oleh manusia yang dulunya kosong diberi warna oleh manusia berwarna terdahulu… manusia sekarang adalah manusia yang gagap manusia yang hanya termotivasi dari leluhurnya dari manusia lain. Tanpa berfikir dalam hakikat hidupnya untuk apa. (termasuk diriku) era kontemporer Dimana zaman lampau berbaur dengan era modern…. Keruetan – keruatan terus menjadi teman manusia yang berfikir. Tuhan yang selama ini kupercaya adalah dari hati kecilku, hidup yang ku jalani adalah dari hati kecilku.

Sekarang aku menyadari hidupku ada karna satu alasan…. Apa alasan itu hanya aku yang tahu. Dan apa alasan hidupmu hanya engkau yang tahu selamat mencari.

Senin, 03 November 2014

Budaya Kaum Intelektual

Budaya Kaum Intelektual

oleh: Saeful Fatah

Baca Tulis Diskusi Lawan!!!

Modernisai, globalisasi serta arus informasi kini menjadi racun di setiap nafas pembangunan peradaban manusia khususnya di Indonesdia. Informasi bahkan data sekalipun bisa di akses oleh siapapun tanpa mengenal dimensi jarak dan waktu. membuat nilai, moral dan etika bangsa ini semakin abu – abu. Kebebasan Informasi serta kecanggihan teknologi  yang menyasar kesetiap elemen masyarakat menjadi salah arti. Bagi Negara dunia ketiga khususnya Indonesia malah menjadi arang dalam sekam, yang akan hanya menghanguskan segala bentuk pembangunan manusia kearah perbaikan. Sungguh ironi pada realita era teknologi informatika yang semestinya menjadi titik di mana pencerdasan kehidupan bangsa yang telah dicita-citakan dalam pembukan UUD 1945 bisa terwujud, malah kian menjauhkan kita pada masyarakat yang madani.
Masalahpun kian berbuntut panjang pada masalah plotik, hukum, ekonomi dan sosial yang tak kian menjemput terang. Orientasi politik negri ini yang hanya mengedepankan kepentingan segelintir kelompok, penegakan Hukum memihak kepada yang berduit dan berkuasa, perekonomian hanya di kuasa kaum kapitalis dan semakin maraknya penyimpangan moral bangsa, sikap acuh, individualitik dan egoistik menjadi acuan dasar dalam berkehidupan.

Peran para kaum intelektual kini kian dipertanyakan. dimana semangat pembangunan, perubahan dan perbaikan kini berada. Di mana semangat soe hok gie wahai mahasiswa, di mana semangat bung hatta dan sjahrir wahai pemikir dan mau bawa kemana nasib anak-anak, masyarkat marjinal, kaum buruh tani yang selalu menempati piramida terbawah dari kurva kesejahteraan negri ini ?

Mari kita bangkitkan kembali budaya yang mulai hilang dari para intelektual dan pemikir kaum terdahulu. Nurani dan pemikiran adalah kunci dasar dalam menyeleraskan dari setiap tindakan dalam rangka pembangunan manusia. Karna perjuangan kita belum berakhir sampai titik ini, dimana nafas akan mengisi ruang bumi, dimana mata memandang masih ada matahri dan di mana ada penindasan, perbudakan, pembodohan dan ketidak benaran kita harus terus melawan. Hidup di garis ketidaknormalan di era kekinian dengan terus membudayakan Baca, Diskusi, Tulis dan lawan (lawan bukan berarti hal yang ekstrim). Teruslah kita bersama-sama dan merangkul setiap pundak yang mulai lemas, lelah dan kessepian dari terpaan era kekinian.

Melawan dengan Budaya Kaum Intelektual

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Wikipedia.org)

Sedangkan Pengertian intelektual menurut para ahli, diantaranya :
1. Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul (Gunarsa, 1991).

2. Pengertian intelektual menurut Cattel (dalam Clark, 1983) adalah kombinasi sifat-sifat manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.

3. David Wechsler (dalam Saifuddin Azwar, 1996) mendefinisikan intelektual sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

Jadi, intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi berfikir abstrak, menalar, serta bertindak secara efisien dan efektif.

Dari dua makna tersebut jika digabungkan adalah kebiasaan atau cara hidup untuk memeperoleh berbagai informasi, berfikir dengan komprehensif, logis, kritis dan bertindak secara efisien dan efektif.

Membaca, Berdiskus, Menulis dan Lawan!!!

A. Membaca
Membaca  dalam areti sempit adalah kegiatan meresepsi, menganalisa, dan mengintepretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan. Kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia, untuk mengetahu isi sebuah buku kita perlu memiliki kemampuan membaca. Banyak sekali manfaat yang akan didapat dengan membaca. Manfaat dari membaca untuk kita adalah :
· Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
· Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
· Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam         bertutur kata.
· Membaca membatu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
· Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
· Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan para sarjana.
· Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi di dalam hidup.
· Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku - buku keagaman. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
· Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.
· Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “di antara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

Namun membaca dalam arti luas adalah membaca segala fenomena dan gejala yang muncul dan menjadi persoalan yang tidak boleh dibiarkan. Membaca dalam arti luas sendiri berhubungan dengan sikap kritis, analitis dan logis kita, menumbuhkan budaya membaca bukan semata – mata sesuatu yang kondisional namun membaca harus di biasakan dan dilandaskan atas keinginan hati. Tentu membaca ini adalah sebuah proses tranformasi pola berfikir karna semakin bertambahnya wawasan dan cara pandang seseorang dalam menyikapi setiap persoalan.

B. Berdiskusi
Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut. Ketika individu memebaca diakhir bacaanya akan memperoleh pemahaman secara subjektif-relatif, bukan hanya itu terkadang dalam proses memahami pembacaan individu baik kelompok masih menuai kesulitan. Disini lah tugas diskusi berperan sebagai  peninjauan kembali terhadap proses membaca. Dalam diskusi terdapat proses bertukar fikiran secara lisan, dimana satu argument akan terus dibantah hingga mencapai kesimpulan bersama yang di jadikan jalan tengah dari suatu topic yang dibahas. Diskusi di tujukan bukan saja melatih keterampilan public speaking, lebih dari itu menguji wawasan intelektual dan memberikan kita ruang berfikir dari berbagai aspek. Karna dalam ruang diskusi tidak hanya satu kepala yang berperan.

C. Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.(Wikipedia.org).

menulis sendiri adalah bentuk dari buah pemikiran  terhadap presepsi atau cara pandang manusia baik pada persoalan yang berlandaskan subjektif-relatif dan penulisan yang memang berlandaskan emipirik rasional (Ilmiah) yang kemudian kini menjadi ilmu pengetahuan. Tercatat dari semua pemikir, filsuf dan cendekiawan yang mengabadikan buah pemikiranya dalam sebuah tulisan. Plato, Aristoteles, Des Cartezs, Isac Newton, Einsten bahkan al Ghazali sekalipun telah mengkristalkan pemikiranya dalam sebuah tulisan. Karna dengan menulis menjadi proses penularan gagasan dari satu tempurung kepala ke tempurung kepala yang lain. Ini juga menjadi jalan alternative bagi seseorang menularkan pemikirannya karna sulit dalam beretorika dan berdialektika terhadap orang lain. “Ucapan mu berlalu bersama angin, Tulisan mu mengabadi”.

D. Lawan
Jika kita pahami kata Lawan secara radikal berarti bertindak “act”. Lawan disini bukan bermaksud kearaah yang lebih ekstrim, tetapi lawan adalah proses penyadaraan. Kenapa penyadaraan karna penyadaraan adalah proses memasukan ide bukan hanya sebatas berkutat pada fikiran melainkan lebih dalam lagi berdasar atas keinginan pribadi “hati nurani”. Haram di katakana penyadaran adalah dogma. Walau sasaranya adalah sama perubahan berkehidupan kelompok/individu.

Ketika kita sudah melalui runtutan dari membaca, berdiskusi dan menulis maka lawan adalah tindakan secara total dari jiwa yang sadar untuk bergerak. Fikiran, tubuh, lisan, telinga dan hati hanya tertuju pada kerangka berfikir untuk menuai perubahan. Idealnya segala perubahan yang diinginkan bagi suatu kelompok /individu adalah kearah perbaikan. Tetapi dalam ralitas kekinian pertentangan akibat perbedaan tujuan mengakibatkan porak-porandanya pembangunan kemanusiaan. Seharusnya kita sudahi semua ego sentris kelompok/pribadi, dengan kita terus menjadi satu dan bersama terus membudayakan budaya kaum intelektual ini, agar bersama kita mencapai kesepakatan tertinggi yang mengarahkan manusia pada jalan menuju pembangunan yang diimpikan.

Bagi saya pribadi Budaya Baca, Diskusi, Tulis dan Lawan adalah sebuah keharusan, ranah budaya ini juga bukan menjadi eksklusifitas kaum pelajar saja mari kita budayakan dari setiap elemen masyarakat. Budaya kolektif, musyawarah dan gotong royong  adalah karakter bangsa ini. Saatnya kita kembali menata kembali nasib bangsa ini bersama.
“Pemuda kita hanya di didik menerima komando, baris – berbaris, menjadi parajurit, tapi tidak pernah di didik menjadi seorang  pejuang, jendral dan pemimpin”-Sjahrir




www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net