Arus Informasi dan komunikasi Abad 21
Oleh: Saeful Fatah
Ada hal yang sangat unik di era ini, dalam memaknai
komunikasi yang terpaut jara dan waktu. Sebagai pengaruh dari kemajuan
teknologi, kini komunikasi tidak lagi terhalang oleh ruang, jarak dan waktu. Manusia
di belahan Bumi utara dengan sangat mudah berkomunikasi dengan manusia belahan
bumi manapun. mampu saling menukar kata – kata baik lewat pesan singkat,
menggunakan pesan suara dan bahkan dapat bertatap muka. Sungguh menakjubkan jutaan informasi dan data
dapat di kirim dengan mudah, Dalam satu detik entah berapa juta data berpindah.
Tentu hal ini sangat membantu sekali dalam memenuhi kebutuhan manusia akan
informasi dan komukasi.
Namun ada hal yang sangat kontra diktif dibalik kemudahan
dan hal instan dalam proses transfer informasi dan komunikasi. Ada beberapa hal
fundamental yang tergerus oleh menghilangya ruang dimana bentuk fisik manusia
dapat bertemu secara langsung, dimana jarak menghalangi komunikasi yang
akhirnya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyampaikan informasi. Jika kita
menilik lagi sejarah lampau manusia, perkembangan, kemajuan dan pembangunan
tidak akan pernah lepas dari yang di sebut komunikasi. Di zaman ketika
komunikasi tidak semudah sekarang, manusia memaknai komunikasi adalah sebuah
bentuk syukur, seni, budaya dan sesuatu yang dalam.
Dalam sebuah contoh jika sepasang kekasih yang terpisah oleh
jarak dan waktu menyampaikan komunikasi
dengan begitu sulit. Jika si pria mengirimkan surat kepada kekasih hatinya,
surat itu berisi lebih dari satu penafsiran
karna memaknai komunikasinya dengan teramat dalam. Butuh waktu yang
sangat lama si wanita untuk menerima surat dari kekasihnya.
Hal yang menarik yang bisa kita tarik dari hal ini bukan
hanya mengenai makna yang mendalam dalam berkomunikasi karna begitu terlampau
sulitnya. Tapi ada pertemuan secara fisik yang sangat dihargai.
Namun ketika kita kembali pada era serba instan dan mudah, komunikasi
manusia mulai sedikit demi sedikit kehilangan rasa penghargaaanya terhadap
pertemuan dengan manusia lainnya. Manusia lebih disibukan dengan alat
komunikasinya dengan manusia di belahan bumi lain. Dari pada menghargai manusia
yang ada di sekitarnya. Sikap apatis terhadap lingkungannya tumbuh dengan
subur. Bahkan mungkin dia tidak pernah mengenal seseorang di dekat rumahnya
atau teman kelasnya.
Gejala seperti ini biasa disebut dengan “Demam Dunia Maya”
manusia dapat dengan mudah berbicara apapun, memalsukan identitas diri,
memungkinkan terror dengan mudah dan bahkan sampai terjadi penipuan yang
merugikan. di era komunikasi instan jiwa manusia menjadi begitu lemah. Sifat yang
muncul adalah selalu merasa cermas, aktualisasi diri yang berlebihan,
kehilangan rasa percaya diri, tidak ada rasa keberanian, bergesernya nilai,
menghilangnya kearifan budaya.

0 komentar:
Posting Komentar