Selaras Dengan Alam
oleh: Saeful Fatah
Bertolak dari Sejarah kehidupan manusia di Bumi, pada mulanya manusia untuk mempertahankan kehidupanya melakukan kegiatan Berburu dan Meramu (Food Gathering)/Mengumpulkan Makanan. Dimana daerah yang mereka tempati harus memberikan persediaan yang cukup untuk keberlangsungan hidupnya. oleh karna itu manusia selalu berpindah – pindah tempat atau biasa di sebut pengembara (Nomaden). Pada zaman ( antara 8000-5000 SM) manusia yang sudah berhasil memanfatkan alam untuk keberlangsungan hidupnya, dalam hal ini adalah bercocok Tanam dan Berternak. manusia mulai menetap pada satu kawasan yang dekat dengan sumber –sumber air. kemudian Bisa disimpulkan manusia terdahulu sangat bergantung terhadap alam dalam mempertahankan kehidupanya.
Bisa Kita sebutkan bersama dalam lingkungan yang kita tempati terdapat berbagai mahluk hidup (Biotik) yang terdiri dari flora dan fauna serta benda mati (abiotik) seperti air, udara dan tanah. Dimana kaitan antara Biotik dan Abiotik adalah satu kesatuan yang membangun keberlangsungan kehidupan. sehingga terjadilah timbal balik mahluk hidup dengan lingkunganya (ekosistem). Ketika salah satu elemen dasar penyusun ekosistem hilang ,mengakibatkan terganggunya keseimbangan kehidupan yang dampaknya akan langsung terasa pada manusia sebagai salah satu komponen di dalam ekosistem.
Manusia adalah bagian dari alam, Manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari alam dimana ia hidup. Keselarasan antara manusia dan alam merupakan kunci keselarasan hidup manusia. Lingkungan menjadi salah satu variabel yang memengaruhi kehidupan manusia. Manusia menjadi mahluk hidup yang sangat istimewa karna dianughrahi akal sehingga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap nasib lingkungan hidupnya. Maka muncul sebuah istilah “Apa yang akan di tanam manusia pada saat ini maka manusia pula yang akan menuai hasilnya”. Jika kita memperlakukan alam dengan baik maka kebaikan pula yang akan di berikan tetapi jika sebaliknya alam pun akan memberikan hasil yang buruk. Bencana alam, Erosi dan Banjir adalah bukti bahwa kita tidak hidup selaras dengan alam. Manusia pun dapat mempengaruhi lingkungan demi kemajuan dan kesejahteraan hidupnya. Namun kadang yang terjadi adalah eksploitasi alam yang berlebihan demi kepentingan segelintir Manusia, yang malah akibat buruknya dirasakan langsung oleh banyak Manusia.
Di Abad 21 Sebagian besar manusia yang hidup dan berkembang di perkotaan mulai tidak mengenal dirinya. Tidak lagi mengenal hakikatnya sebagai mahluk alamiah yang hidup berdampingan dengan alam. Hal ini bisa terlihat dengan tatanan perkotaan yang tidak berlandaskan konsep ramah lingkungan. Betonisasi menjadi ciri kemajuan pembangunan manusia, semakin gedung menjulang tinggi dan semakin banyak, menadakan kematangan pembangunan manusia. Kekinian Fenomena pembangunan tidak ramah lingkungan ini menjadi suatu icon besar bagi suatu bangsa terhadap ukuran berkebudayaan dan ilmu pengetahuan. Sehingga setiap bangsa dan negara seakan – akan berlomba mebangun gedung yang bisa menyentuh ujung langit. Imbas dari pembangunan yang tidak ramah lingkungan ini bukan hanya berimbas pada berbagai bencana alam. Henry Thomas Bucle mentakan bahwa iklim, tanaman, dan tanah saling berkaitan dalam memengaruhi karakter dan sifat manusia. Kegelisahan – kegelisahan akan sesuatu yang bersifat materi menjadi masalah yang tidak pernah ber ujung.
RTH (Ruang Terbuka Hijau) adalah Salah satu jalan keluar pembangunan di perkotaan, demi tetap terjaganya Hubungan Manusia dengan lingkungan dalam hal ini alam. Aturan mengenai penyediaan dan pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 5/PRT/M/2008. Sudah diatur bahwa RTH harus ada 30% - 40% dari total seluruh kawasan perkotaan Ruang Terbuka Hijau ini di rasa sangat di butuhkan demi menjamin Aktifitas kehidupan manusia di Perkotaan baik dari sisi spritual, edukasi dan entertain. Banyak sekali Fungsi RTH dalam kehidupan Manusia dapat di bagi menjadi Fungsi Intrinsik dan Fungsi Ekstrinsik
Fungsi Intrinsik (Fungsi Ekologis) diantaranya; memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota), pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitat satwa, penyerap polutan media udara, air dan tanah, serta, penahan angin.
Fungsi ekstrinsik (Fungsi sosial dan budaya, Fungsi ekonomi dan Fungsi estetika) diantaranya :
1)Fungsi sosial dan budaya; menggambarkan ekspresi budaya local, merupakan media komunikasi warga kota, tempat rekreasi; wadah dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam mempelajari alam.
2) Fungsi ekonomi ; sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun, sayur mayor, bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan dan lain-lain.
3) Fungsi estetika ; meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah, lingkungan permukimam, maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan, menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota, pembentuk faktor keindahan arsitektural, menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun.
Kesadaran Keselaran hidup dengan alam sekarang ini perlu kita gali dari setiap kebudayaan terdahulu. Tiap – tiap budaya yang sudah melekat dan mengakar lama pada kehidupan bangsa kita, selalu mengajarkan hidup selaras dengan alam. Budaya hidup selaras dengan alam harus di jadikan sebagai model pembangunan manusia di Era ini. sehingga dapat mendamaikan hubungan manusia dengan Lingkungan (Alam). Terwujudnya Ruang Terbuka Hijau pun bukan saja tugas aparatur Negara, tapi tugas setiap manusia yang menempati lingkungannya. Maka kesadaran akan pentingnya hidup selaras dengan alam harus ditumbuhkan sejak dini dengan tidak mengindahkan berbagai kearifan local yang sudah ada.

0 komentar:
Posting Komentar