Senin, 03 November 2014

Budaya Kaum Intelektual

Budaya Kaum Intelektual

oleh: Saeful Fatah

Baca Tulis Diskusi Lawan!!!

Modernisai, globalisasi serta arus informasi kini menjadi racun di setiap nafas pembangunan peradaban manusia khususnya di Indonesdia. Informasi bahkan data sekalipun bisa di akses oleh siapapun tanpa mengenal dimensi jarak dan waktu. membuat nilai, moral dan etika bangsa ini semakin abu – abu. Kebebasan Informasi serta kecanggihan teknologi  yang menyasar kesetiap elemen masyarakat menjadi salah arti. Bagi Negara dunia ketiga khususnya Indonesia malah menjadi arang dalam sekam, yang akan hanya menghanguskan segala bentuk pembangunan manusia kearah perbaikan. Sungguh ironi pada realita era teknologi informatika yang semestinya menjadi titik di mana pencerdasan kehidupan bangsa yang telah dicita-citakan dalam pembukan UUD 1945 bisa terwujud, malah kian menjauhkan kita pada masyarakat yang madani.
Masalahpun kian berbuntut panjang pada masalah plotik, hukum, ekonomi dan sosial yang tak kian menjemput terang. Orientasi politik negri ini yang hanya mengedepankan kepentingan segelintir kelompok, penegakan Hukum memihak kepada yang berduit dan berkuasa, perekonomian hanya di kuasa kaum kapitalis dan semakin maraknya penyimpangan moral bangsa, sikap acuh, individualitik dan egoistik menjadi acuan dasar dalam berkehidupan.

Peran para kaum intelektual kini kian dipertanyakan. dimana semangat pembangunan, perubahan dan perbaikan kini berada. Di mana semangat soe hok gie wahai mahasiswa, di mana semangat bung hatta dan sjahrir wahai pemikir dan mau bawa kemana nasib anak-anak, masyarkat marjinal, kaum buruh tani yang selalu menempati piramida terbawah dari kurva kesejahteraan negri ini ?

Mari kita bangkitkan kembali budaya yang mulai hilang dari para intelektual dan pemikir kaum terdahulu. Nurani dan pemikiran adalah kunci dasar dalam menyeleraskan dari setiap tindakan dalam rangka pembangunan manusia. Karna perjuangan kita belum berakhir sampai titik ini, dimana nafas akan mengisi ruang bumi, dimana mata memandang masih ada matahri dan di mana ada penindasan, perbudakan, pembodohan dan ketidak benaran kita harus terus melawan. Hidup di garis ketidaknormalan di era kekinian dengan terus membudayakan Baca, Diskusi, Tulis dan lawan (lawan bukan berarti hal yang ekstrim). Teruslah kita bersama-sama dan merangkul setiap pundak yang mulai lemas, lelah dan kessepian dari terpaan era kekinian.

Melawan dengan Budaya Kaum Intelektual

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Wikipedia.org)

Sedangkan Pengertian intelektual menurut para ahli, diantaranya :
1. Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul (Gunarsa, 1991).

2. Pengertian intelektual menurut Cattel (dalam Clark, 1983) adalah kombinasi sifat-sifat manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.

3. David Wechsler (dalam Saifuddin Azwar, 1996) mendefinisikan intelektual sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

Jadi, intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi berfikir abstrak, menalar, serta bertindak secara efisien dan efektif.

Dari dua makna tersebut jika digabungkan adalah kebiasaan atau cara hidup untuk memeperoleh berbagai informasi, berfikir dengan komprehensif, logis, kritis dan bertindak secara efisien dan efektif.

Membaca, Berdiskus, Menulis dan Lawan!!!

A. Membaca
Membaca  dalam areti sempit adalah kegiatan meresepsi, menganalisa, dan mengintepretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan. Kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia, untuk mengetahu isi sebuah buku kita perlu memiliki kemampuan membaca. Banyak sekali manfaat yang akan didapat dengan membaca. Manfaat dari membaca untuk kita adalah :
· Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
· Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
· Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam         bertutur kata.
· Membaca membatu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
· Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
· Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan para sarjana.
· Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi di dalam hidup.
· Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku - buku keagaman. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
· Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.
· Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “di antara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

Namun membaca dalam arti luas adalah membaca segala fenomena dan gejala yang muncul dan menjadi persoalan yang tidak boleh dibiarkan. Membaca dalam arti luas sendiri berhubungan dengan sikap kritis, analitis dan logis kita, menumbuhkan budaya membaca bukan semata – mata sesuatu yang kondisional namun membaca harus di biasakan dan dilandaskan atas keinginan hati. Tentu membaca ini adalah sebuah proses tranformasi pola berfikir karna semakin bertambahnya wawasan dan cara pandang seseorang dalam menyikapi setiap persoalan.

B. Berdiskusi
Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut. Ketika individu memebaca diakhir bacaanya akan memperoleh pemahaman secara subjektif-relatif, bukan hanya itu terkadang dalam proses memahami pembacaan individu baik kelompok masih menuai kesulitan. Disini lah tugas diskusi berperan sebagai  peninjauan kembali terhadap proses membaca. Dalam diskusi terdapat proses bertukar fikiran secara lisan, dimana satu argument akan terus dibantah hingga mencapai kesimpulan bersama yang di jadikan jalan tengah dari suatu topic yang dibahas. Diskusi di tujukan bukan saja melatih keterampilan public speaking, lebih dari itu menguji wawasan intelektual dan memberikan kita ruang berfikir dari berbagai aspek. Karna dalam ruang diskusi tidak hanya satu kepala yang berperan.

C. Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.(Wikipedia.org).

menulis sendiri adalah bentuk dari buah pemikiran  terhadap presepsi atau cara pandang manusia baik pada persoalan yang berlandaskan subjektif-relatif dan penulisan yang memang berlandaskan emipirik rasional (Ilmiah) yang kemudian kini menjadi ilmu pengetahuan. Tercatat dari semua pemikir, filsuf dan cendekiawan yang mengabadikan buah pemikiranya dalam sebuah tulisan. Plato, Aristoteles, Des Cartezs, Isac Newton, Einsten bahkan al Ghazali sekalipun telah mengkristalkan pemikiranya dalam sebuah tulisan. Karna dengan menulis menjadi proses penularan gagasan dari satu tempurung kepala ke tempurung kepala yang lain. Ini juga menjadi jalan alternative bagi seseorang menularkan pemikirannya karna sulit dalam beretorika dan berdialektika terhadap orang lain. “Ucapan mu berlalu bersama angin, Tulisan mu mengabadi”.

D. Lawan
Jika kita pahami kata Lawan secara radikal berarti bertindak “act”. Lawan disini bukan bermaksud kearaah yang lebih ekstrim, tetapi lawan adalah proses penyadaraan. Kenapa penyadaraan karna penyadaraan adalah proses memasukan ide bukan hanya sebatas berkutat pada fikiran melainkan lebih dalam lagi berdasar atas keinginan pribadi “hati nurani”. Haram di katakana penyadaran adalah dogma. Walau sasaranya adalah sama perubahan berkehidupan kelompok/individu.

Ketika kita sudah melalui runtutan dari membaca, berdiskusi dan menulis maka lawan adalah tindakan secara total dari jiwa yang sadar untuk bergerak. Fikiran, tubuh, lisan, telinga dan hati hanya tertuju pada kerangka berfikir untuk menuai perubahan. Idealnya segala perubahan yang diinginkan bagi suatu kelompok /individu adalah kearah perbaikan. Tetapi dalam ralitas kekinian pertentangan akibat perbedaan tujuan mengakibatkan porak-porandanya pembangunan kemanusiaan. Seharusnya kita sudahi semua ego sentris kelompok/pribadi, dengan kita terus menjadi satu dan bersama terus membudayakan budaya kaum intelektual ini, agar bersama kita mencapai kesepakatan tertinggi yang mengarahkan manusia pada jalan menuju pembangunan yang diimpikan.

Bagi saya pribadi Budaya Baca, Diskusi, Tulis dan Lawan adalah sebuah keharusan, ranah budaya ini juga bukan menjadi eksklusifitas kaum pelajar saja mari kita budayakan dari setiap elemen masyarakat. Budaya kolektif, musyawarah dan gotong royong  adalah karakter bangsa ini. Saatnya kita kembali menata kembali nasib bangsa ini bersama.
“Pemuda kita hanya di didik menerima komando, baris – berbaris, menjadi parajurit, tapi tidak pernah di didik menjadi seorang  pejuang, jendral dan pemimpin”-Sjahrir




0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net