Bukan iya atau tidak
oleh: Saeful Fatah
Secara pribadi aku mulai bertanya – Tanya dalam jiwaku yang paling dalam dari makna kehidupan. Bagaimana aku melangkah, bagaimana aku bergerak, dan bagaimana??? Semuanya memeras ku. Aku berdiri dalam jurang keraguan, terbata – bata dalam mengartikan segala hal yang ku alami. Kelemahan ku yang semakin menjatuhakan jiwa ini ke dalam dasar dari tujuan hidupku. Namun aku sendiri tidak mampu mengartikan tujuan hidupku ini.
Semakin aku tenggelam dalam fikiran dan hatiku, semakin aku sulit mencari motivasi untuk bangkit. Dari bertanya kita mulai menuai bibit pencerahan. Namun segala jawaban saat ini yang ku temui adalah masih sangat abu – abu dari apa yg selama ini ku cari untuk memuaskan dahaga penyadaran hati dan fikiran ku.
Aku mengetahui bahwa dunia ini di bentuk dari berbagai fikiran manusia yang terimplementasi menjadi sebuah budaya dan cara hidup manusia. Apakah hidup ini hanya sebuah permainan fikiran dan kepentingan manusia. Entah lah???
Tapi aku mulai bercumbu dengan hal yang paling dasar dalam hidup ini yaitu kekosongan. Dimana dia melahirkan hitam dan putih. Relative adalah kebenaran dan kebenaran adalah relative, dunia di bentuk dari satu fikiran subjek yang diangkat menjadi sesuatu yg general. Ironis bukan, bahwa kebenaran hanyalah kebohongan belaka bahkan ilmu pengetahuan yang dasarnya adalah realita yang dapat dibuktikan dengan sempurna masih jauh dari kata kebenaran.
Gelap bukan lah gelap, putih juga bukan putih. Baik bukanlah baik, buruk bukanlah buruk. Segalanya hanya ditentukan oleh presepsi individu. Bagaimana jika aku menjungkir balikan kenyataan bahwa yang buruk adalah baik atau yang baik adalah buruk. Kesimpulanya tetap sama manusia hanya sibuk dengan fikirannya sendiri. Aku terus mencari kebenaran namun tidak ada kebenara yang benar – benar aku cari.
Bolehlah aku di katakan orang yang tersesat dalam semesta jiwaku. Namun jika ku menyelami kembali lautan sejarah kehidupan manusia, bahwa ada hal yang selalu menuntunnya kedalam gelap dan terang. Hal itu tidak ku mengerti apa, kenapa seorang wanita yang memiliki paras seperti itu dikatan indah. Dan yang itu tidak indah. Kenapa manusia lebih memilih tertawa sebagai ungkapan senang. Jawabanya karna hanya (aku ingin- karna- ingin) semua presepsi dan keinginan di bentuk oleh kesadaran palsu yang kemudian disusupkan semasa kita menjalani liku – liku hidup. Karna lingkungan membuat cara pandang hidup manusia berbeda – beda.
Sehingga pada akhirnya presepsi itu kita sebut dengan “hati kecil” keinginan yang berbisik lirih yang selalu menyatakan kebenaran bagi jiwanya. Jika ada dua wanita yang memiliki paras yang cantik dua-duanya hamper serupa terkadang kita memilih salah satunya. Kenapa harus salah satunya, kenapa tidak dua-duanya dan kenapa tidak sama sekali… entah faktor apa yang menyebabkan keyakinan meledak didalam jiwa untuk memilih wanita yang satunya. Logikapun menjadi tidak berarti, ilmupun mejadi takbertenaga menepisnya. Entah apa yang mungkin kalian sebut aku menyebutnya “hati kecil”.
Manusia akhirnya pantas bahwa disebut kertas yang kosong, diberikan warna oleh manusia yang dulunya kosong diberi warna oleh manusia berwarna terdahulu… manusia sekarang adalah manusia yang gagap manusia yang hanya termotivasi dari leluhurnya dari manusia lain. Tanpa berfikir dalam hakikat hidupnya untuk apa. (termasuk diriku) era kontemporer Dimana zaman lampau berbaur dengan era modern…. Keruetan – keruatan terus menjadi teman manusia yang berfikir. Tuhan yang selama ini kupercaya adalah dari hati kecilku, hidup yang ku jalani adalah dari hati kecilku.
Sekarang aku menyadari hidupku ada karna satu alasan…. Apa alasan itu hanya aku yang tahu. Dan apa alasan hidupmu hanya engkau yang tahu selamat mencari.

0 komentar:
Posting Komentar